Kisah Nyata Perjalanan Hidup Seorang Ibu Yang Memprihatinkan

Kisah Nyata Perjalanan Hidup Seorang Ibu  Yang Memprihatinkan

Sosok Seorang Ibu Dhurohmah Terlihat Memprihatinkan Dengan Keadaanya Itu Terlihat Dari Sorot Matanya Dengan Pandangan Yang Hampa

Biodata Ibu = Dhurohmah
√Nama : Dhurohmah
√Tempat Tgl lahir : Tuban, 05 Agustus 1954
√Alamat : Dusun Sambonglombok RT. 001/RW. 010, Kelurahan/Desa Bangilan Kecamatan Bangilan
√Status : Janda anak 3
√Pekerjaan : Wiraswasta (Pembuat Peyek)

Infosindo.com -Ibu Dhurohmah adalah seorang Ibu yang hidup dalam serba kekurangan dan mempunyai 3 anak laki laki, adapun anak yang ke 1 dan ke 2 pergi merantau untuk bekerja mencari penghidupan dan ibu Dhurohmah sudah di tinggal wafat oleh suaminya semenjak 2003 silam. Ibu ini sudah tidak bisa membiayai anak anaknya untuk sekolah semenjak di tinggal wafat oleh suaminya. Ibu Dhurohmah hanya bisa prihatin dan mendorong putra putranya untuk terus bersekolah. Dengan jerih payahnya dan gigih untuk memotivasi putra putranya supaya menjadi orang yang sukses dan bisa berhasil. Alangkah sedihnya ibu ini melepas kepergian anak anaknya untuk merantau mencari sesuap nasi sendiri dan untuk keberlangsungan hidupnya. Ibu ini hanya bisa berusaha untuk mengais rezeki untuk mendapatkan penghasilan sendiri demi sesuap nasi untuk makanya sendiri disetiap harinya dengan membuat peyek yang dibuat dan diolahnya sendiri untuk di jual ke warung warung dan diedarkan ke tetangga.

Hasil dari penjualan peyek yang dibuatnya hanya mendapatkan keuntungan 7000-10.000 rupiah itupun pembuatan peyek tidak setiap hari. Karena hasil keringatnya dari penjulan peyek yang hanya beberapa ribu saja tidak cukup untuk membeli beras, apalagi harus membeli yang lain. Mendapatkan hasil yang hanya sekian ribu itu terkadang sering diminta anaknya yang nomer 3 untuk jajan.

Dengan keadaan yang demikian ibu Dhurohmah lebih banyak berpuasanya dari pada harus makan untuk mengisi perutnya, dan lebih mengutamakan untuk jajan anak bungsunya, karena bila meminta uang tidak dikasih anaknya marah marah.

Keadaan itu lebih diperparah oleh keadaan rumahnya yang sudah lumayan memprihatinkan dengan genteng atap rumahnya pada pecah dan bocor bila musim hujan tiba rumah yang dihuninya sering tidak bisa di tempati bila hujan sangat lebat karena air hujan pada masuk kedalam rumah hingga menggenang didalam rumah. Walaupun Ibu Dhurohmah tinggal satu rumah dengan anaknya yang ke-3 (bungsu), anaknya tidak mau tahu apalagi memperbaiki genteng rumah yang pada bocor, karena yang dia tahu hanyalah meminta uang dan ketika meminta uang memaksa harus ada. Sehingga keadaan itu yang memaksa si ibu untuk pinjam uang ke tetangga kanan dan kiri demi untuk anaknya.

Tidak hanya itu saja, sebidang rumah yang ditempati terbuat dari papan kayu juga sudah mulai copot paku pakunya dan digerogoti oleh rayap, sehingga membuat rumah sebagian yang terbuat dari kayu mulai berlubang dan mudah roboh apabila didorong kekuatan tangan orang laki laki dewasa kecuali rumah bagian depan terbuat dari tembok.

Begitu juga dengan keadaan fisik ibu Dhurohmah yang sudah tua dan lemah tidak memungkinkan untuk bekerja lebih keras lagi untuk memenuhi kebutuhannya sendiri untuk kesehariannya. Ibu Dhurohmah sudah seringkali untuk mendaftar meminta kerja ikut jadi buruh tanam padi akan tetapi ditolak karena tuan yang mempunyai sawah tidak percaya akan bisa mengerjakan pekerjaan tanam padi sebab melihat kondisi fisiknya yang sangat lemah, terlihat kurus dan sangat lemah.

Walaupun begitu ibu Dhurohmah tetap mempunyai keinginan untuk membuka usaha berupa jualan sembako didepan rumahnya yang masih tersisa tanah kosong. Namun apa daya selain fisik lemah, sudah tua dan juga tidak mempunyai modal. Dimasa tuanya ibu Dhurohmah tetap ingin berusaha sendiri dan tidak ingin merepotkan anaknya.

Demikian kisah cerita singkat dan nyata tentang kehidupan Ibu Dhurohmah ini kami sampaikan kepada pembaca yang Budiman, semoga bisa menambah rasa Syukur kita dan motivasi hidup bagi kita. Terimakasih

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: