Info Sindo
Info Sindo

LAMONGAN, Infosindo.com -Densus 88 Antiteror Mabes Polri mengambil alih kasus penyerangan terhadap Bripka Andreas Dwi Anggoro, anggota Polantas yang bertugas di Pos Jaga Lalu lintas (Poslantas) depan destinasi Wisata Bahari Lamongan (WBL) Paciran, Jawa Timur yang terjadi Selasa dinihari.
Dari hasil pendalaman, dua pelaku penyerangan merupakan bekas narapidana Eko Ristanto (37), dan M Syaif Ali Hamdi alias Abu Kaisa (18) yang berhasil ditangkap. Mereka diduga keras terlibat dalam suatu jaringan teroris kelompok radikal.
“Salah satu tersangka pelaku penyerangan selain diketahui sebagai bekas narapidana (napi) di Lapas Madiun yang bebas bersyarat, juga oknum pecatan anggota Satreskrim Polresta Sidoarjo yang beberapa kali membesuk narapidana terorisme Willian Maksum alias Tio alias Alan bin Ade Suherman di Lapas yang sama,” ujar Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan didampingi Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera menjawab pertanyaan wartawan, Rabu (21/11) malam.
Kapolda mengapresiasi keheroikan Bripka Andreas yang berhasil menangkap kedua pelaku dengan mengejar dan menabrakkan motornya ke motor kedua tersangka, dengan dibantu sekuriti WBL beserta warga masyarakat Desa Blimbing.
“Padahal mata kanan Bripka Andreas luka sobek cukup parah akibat penyerangan itu. Untuk itu dia mengusulkan kepada Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian untuk mendapatkan penghargaan,” ujar Luki.
Ditanya latar belakang penyerangan, menurut Kapolda, bisa jadi latar belakang Eko menyerang petugas Polantas karena sakit hati akibat dipecat dari kepolisian, atau memang murni melibatkan kelompok radikal. “Masih sedang didalami,” tandas Luki.
Untuk penanganan lebih lanjut, kedua tersangka akan ‘dijemput’ petugas Satgas Densus 88 Mabes Polri guna dibawa ke Jakarta, Rabu sore. Namun karena sesuatu hal, rencana itu ditunda, Kamis (22/11) hari ini.
Petugas Polres Lamongan selain mengamankan barang bukti satu unit sepeda motor yang digunakan kedua pelaku, juga batu yang dilemparkan ke kaca Pos Polantas, serta sebuah ketapel berikut tujuh butir kelereng sisa yang melukai mata kanan Bripka Andreas.
Satserkrim Polres Lamongan yang melakukan penggeledahan di di rumah tersangka Eko yang mantan anggota Polres Kota Sidoarjo itu, menemukan sejumlah buku-buku yang berhubungan dengan kelompok radikalisme dan adanya aktivitas mencurigakan dari pelaku. Sebab, tersangka Eko sendiri, paling tidak sudah dua kali menemui napiter William Maksum di Lapas Madiun, dua pekan sebelum melakukan penyerangan.
Kapolres Lamongan, AKBP Feby DP Hutagalung usai membesuk Bripka Andreas yang menjalani perawatan intensif pada mata kanannya yang robek di RSU Bhayangkara, Mapolda Jatim, Rabu mengatakan tersangka Eko dan Syaif, sebenarnya baru berkenalan sekitar empat bulan terakhir. Mereka bertemu pada kegiatan keagamaan di sebuah mushola di Lamongan. Karena memiliki satu keyakinan dan konsep pemahaman yang sama akhirnya mereka akrab. Keduanya kemudian menyerang Pos Polantas Paciran.
“Kita belum bisa mengerti, apa motif atau modus operandi mereka menyerang petugas Polantas yang sedang berdinas,” ujar AKBP Feby DP Hutagalung.
Sementara itu Bupati Lamongan M Fadeli yang dikonfirmasi terpisah mengungkapkan, bahwa tersangka pelaku Eko dalam kesehariannya dianggap biasa-biasa dan tidak menonjol di mata masyarakat. “Dia asal Sidoarjo, bukan asli Lamongan. Dia sebelumnya juga berstatus napi dan baru tahun 2017 menikah dengan peremuan asal Tuban kemudian tinggal di rumah kontrakan di Lamongan, ujar Bupati Fadeli.