Info Sindo
Info Sindo

SLAWI, Infosindo.com – Sindikat pencurian mobil lintas daerah berhasil diringkus Tim Resmob Satreskrim Polres Tegal. Mobil hasil curian dijual hingga ke luar negeri.

Sindikat yang sudah beraksi di belasan tempat di Kabupaten Tegal, Brebes, dan Pemalang ini terdiri dari Makhrus (37), warga Desa Tegalwulung Kecamatan Jatibarang Kabupaten Brebes, Karno alias Cucu (35), warga Desa Pilang Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora, dan Achmad Farichi (36), warga Desa Tembok Banjaran Kecamatan Adiwerna Kabupaten Tegal.

“Sindikat pencurian dengan pemberatan ini spesialis mobil Grand Max. Sasarannya adalah mobil jenis Grand Max,” kata Kapolres Tegal AKBP Dwi Agus Prianto, Sabtu (8/12).

Dwi mengungkapkan, para tersangka sudah beraksi di 17 tempat kejadian perkara (TKP) di wilayah Kabupaten Tegal. Selain itu, mereka juga menjalankan kejahatannya di Kabupaten Brebes, dan Pemalang. “Total ada 17 TKP. Di Kabupaten Tegal 12 TKP, Brebes tiga TKP, Pemalang dua TKP,” terangnya.

Info Sindo
Info Sindo

Modus operandi para tersangka dalam beraksi yakni dengan menggunakan kunci leter T untuk membuka kunci mobil dan bor untuk merusak rumah kunci kontak. Selanjutnya mobil dinyalakan dengan menggunakan obeng.

“Masing-masing tersangka memiliki peran. Ada yang eksekutor, ada yang bertugas membawa untuk dijual ke penadah,” ujar Dwi.

Dwi melanjutkan, mobil hasil curian dijual ke penadah yang ada di Kabupaten Blora dengan harga Rp22 juta. Penadah bernama Munari (40), warga Desa Pilang Kecamatan Randublatung Blora, yang juga sudah ditangkap itu sebelumnya sudah memesan mobil Grand Max dengan tahun pembuatan 2017 dan 2018.

“Oleh tersangka penadah, mobil kemudian dibawa ke Atambua, NTT melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya untuk dijual lagi ke penadah di sana berinisial E yang masih buron. Dari NTT itu, mobil dijual lagi ke Timor Leste karena di sana harga bisa lebih mahal. Jadi ini tidak hanya lintas daerah tapi negara,” beber Dwi.

Dwi menambahkan, untuk mengembangkan kasus tersebut, termasuk mengejar E yang masih buron, pihaknya berkoordinasi dengan Polda Jatim dan NTT. “Ada indikasi mobil hasil curian para tersangka diterbitkan dokumen-dokumen baru untuk dijual di Timor Leste,” ujar Dwi.

Adapun barang bukti yang disita dari para tersangka pencurian di antaranya tiga buah kunci leter T, satu buah bor tanpa kabel (cordless) beserta mata bor, obeng, satu unit mobil Toyota Vios yang digunakan untuk mencari sasaran. Sedangkan dari tersangka penadah disita satu unit sepeda motor yang dibeli dari hasil menjual mobil curian.

“Tersangka pencurian dijerat pasal 363 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal tujuh tahun penjara. Sementara, untuk penadah kita kenakan pasal 480 KUHP dengan ancaman hukuman empat tahun penjara,” pungkas Dwi.