Ekonomi & BisnisNasional

Harga Pertamax Melonjak, Pakar Prediksi 10 Persen Konsumen Beralih ke Pertalite

JAKARTA, Infosindo.com – Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi Pertamax diperkirakan akan mengubah pola konsumsi masyarakat. Kenaikan harga dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter diyakini mendorong sebagian pengguna beralih ke Pertalite yang masih dijual Rp10.000 per liter.

Pakar energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, memperkirakan sekitar 10 persen konsumen Pertamax akan berpindah menggunakan Pertalite. Prediksi tersebut mengacu pada pengalaman kenaikan harga Pertamax pada 2022, ketika sebagian pengguna memilih BBM dengan harga lebih terjangkau.

Menurut Yayan, masyarakat pada umumnya tidak mengurangi aktivitas berkendara meski harga BBM naik. Sebaliknya, mereka cenderung mencari alternatif yang lebih murah agar pengeluaran tetap terkendali.

Ia menilai selisih harga Pertamax dan Pertalite yang kini mencapai Rp6.250 per liter menjadi faktor utama yang mendorong perubahan perilaku konsumen. Bahkan, selisih tersebut disebut sebagai yang terbesar sejak kedua jenis BBM itu dipasarkan.

Meski diperkirakan terjadi lonjakan permintaan Pertalite, Yayan memastikan kuota BBM bersubsidi masih mencukupi untuk menampung perpindahan sebagian pengguna Pertamax. Ia memperkirakan tambahan konsumsi tersebut hanya akan menggunakan sekitar sepertiga dari sisa kuota yang tersedia.

Dari sisi pengeluaran, dampaknya cukup terasa. Pemilik mobil yang menghabiskan sekitar 100 liter Pertamax setiap bulan diperkirakan harus menambah biaya hingga sekitar Rp395.000 per bulan. Sementara pengguna sepeda motor dengan konsumsi 30 liter per bulan diperkirakan mengeluarkan tambahan sekitar Rp119.000.

Yayan juga menjelaskan dampak kenaikan harga tidak dirasakan secara merata. Rumah tangga berpenghasilan rendah dinilai relatif tidak terdampak karena sebagian besar tidak menggunakan Pertamax.

Sebaliknya, kelompok masyarakat kelas menengah diperkirakan menjadi segmen yang paling banyak beralih ke Pertalite untuk menekan pengeluaran. Sementara rumah tangga menengah atas dan kelompok berpenghasilan tinggi harus menanggung kenaikan biaya transportasi yang lebih besar, terutama karena kendaraan operasional perusahaan tidak diperbolehkan menggunakan BBM bersubsidi.

Ia menilai beban kenaikan harga Pertamax pada akhirnya lebih banyak ditanggung oleh kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi, sehingga dampaknya menyerupai kebijakan yang lebih besar dirasakan oleh kalangan mampu.

Di sisi lain, PT Pertamina Patra Niaga memastikan pasokan Pertalite tetap aman meski diperkirakan terjadi peningkatan permintaan. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menegaskan distribusi Pertalite di seluruh SPBU berjalan normal sesuai penugasan pemerintah.

Pertamina juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan BBM secara bijak, membeli sesuai kebutuhan, serta memilih jenis BBM yang sesuai dengan spesifikasi kendaraan dan ketentuan yang berlaku. Dengan demikian, ketersediaan Pertalite diharapkan tetap terjaga bagi masyarakat yang memang berhak memanfaatkannya. (Red)

Related Articles

Back to top button