Sulut Bidik Pasar Asia-Pasifik, Investor Diajak Kembangkan Hilirisasi Kelapa
MANADO, Infosindo.com – Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Pemprov Sulut) semakin serius mendorong daerah ini menjadi pintu gerbang perdagangan dan investasi menuju kawasan Asia Timur dan Pasifik.
Komitmen tersebut disampaikan Gubernur Sulut Yulius Selvanus dalam pembukaan North Sulawesi Investment Forum (NSIF) 2026 yang digelar di Four Points Hotel Manado, Jumat (7/8/2026).
Sambutan Gubernur Yulius dibacakan Wakil Gubernur Sulut Victor Mailangkay di hadapan para pelaku usaha dan calon investor yang hadir dalam forum investasi tersebut.
Gubernur Yulius menilai letak geografis Sulut yang berhadapan langsung dengan Samudra Pasifik menjadi keunggulan strategis yang dapat dimanfaatkan untuk memperluas konektivitas perdagangan ke sejumlah negara di Asia Timur dan kawasan Pasifik.
“Sulawesi Utara merupakan hub logistik dan perdagangan tercepat menuju pasar Asia Timur, seperti Jepang, Korea, Tiongkok, serta kawasan Pasifik,” kata Yulius dalam sambutannya.
Potensi tersebut, lanjutnya, semakin diperkuat dengan keberadaan Pelabuhan Hub Internasional Bitung dan Bandara Internasional Sam Ratulangi. Integrasi konektivitas laut dan udara dinilai dapat memberikan efisiensi waktu maupun biaya distribusi.
Pemprov Sulut menyebut efisiensi pengiriman melalui dukungan infrastruktur tersebut dapat mencapai sekitar 30 hingga 40 persen dibandingkan jalur pelayaran konvensional.
Selain mengandalkan posisi geografis, Pemprov Sulut juga menawarkan potensi besar di sektor perkebunan, khususnya komoditas kelapa.
Sulut yang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kelapa utama di Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi pusat industri pengolahan kelapa bernilai tambah.
Karena itu, Gubernur Yulius mendorong investor tidak berhenti pada aktivitas ekspor bahan mentah. Ia justru mengajak pelaku usaha masuk ke sektor deep processing agar komoditas kelapa mampu menghasilkan nilai ekonomi yang jauh lebih besar di daerah.
“Bukan sekadar ekspor bahan mentah, tapi kembangkan industri olahan kelapa terpadu, seperti oleofood dan oleokimia,” tegasnya.
Menurut dia, pengembangan industri hilirisasi kelapa dapat membuka peluang investasi sekaligus menciptakan lapangan kerja, memperkuat rantai ekonomi daerah, dan meningkatkan daya saing komoditas Sulut di pasar global.
Melalui NSIF 2026, Pemprov Sulut membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan dunia usaha. Investor, BUMN, BUMD, serta mitra strategis dari dalam maupun luar negeri diajak mengambil bagian dalam berbagai peluang investasi yang tersedia.
Forum investasi tersebut diharapkan menjadi salah satu langkah strategis mempercepat transformasi ekonomi Sulut sekaligus mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045.
Dengan posisi geografis yang strategis, dukungan konektivitas serta kekayaan komoditas, Sulut ingin memastikan peluang sebagai Pacific Gateway tidak sekadar menjadi slogan, tetapi diwujudkan melalui investasi konkret dan industri bernilai tambah. (Liu)



