World Coconut Day 2026, Anik Yulius Bawa Pesan Harmoni dan Kreativitas Sulut

MANADO, Infosindo.com – Harmoni suara menjadi bagian dari semangat Sulawesi Utara (Sulut) dalam perhelatan World Coconut Day 2026.
Ketua TP PKK Sulut, Anik Yulius Selvanus, hadir sekaligus menjadi juri pada Choir Competition atau Lomba Paduan Suara yang menjadi salah satu rangkaian kegiatan tersebut.
Kehadiran Anik Yulius turut memberi warna pada perhelatan yang tidak hanya mengangkat potensi kelapa Sulawesi Utara, tetapi juga mempertemukan seni, kreativitas dan semangat kebersamaan masyarakat.
Menurut Anik, paduan suara mengajarkan lebih dari sekadar kemampuan bernyanyi. Di dalamnya terdapat nilai disiplin, kekompakan, kemampuan saling mendengar, menghargai perbedaan hingga bekerja bersama untuk mencapai tujuan.
“Berbeda suara dapat menghasilkan harmoni yang indah,” ujar Anik.
Ia menilai semangat tersebut sejalan dengan kehidupan masyarakat Sulawesi Utara yang memiliki keberagaman, namun tetap dapat berjalan bersama dalam membangun daerah.
Kegiatan ini turut dihadiri Gubernur Sulut Yulius Selvanus, Wakil Gubernur Victor Mailangkay, jajaran Pemprov Sulut serta Wakil Ketua TP PKK Sulut, Merry Elisabeth Kalalo.
Di sisi lain, World Coconut Day 2026 juga menjadi ruang untuk memperkenalkan potensi kelapa Sulut ke pasar yang lebih luas. Melalui Coconut Expo, berbagai produk olahan kelapa karya UMKM, kelompok tani, koperasi, perajin dan pelaku ekonomi kreatif ditampilkan kepada masyarakat.
Anik menilai potensi tersebut perlu terus dikembangkan melalui hilirisasi, inovasi produk, peningkatan kualitas, desain, branding hingga perluasan akses pasar.
Menurutnya, seni dan kreativitas dapat berjalan beriringan dengan pengembangan UMKM dan komoditas kelapa untuk memperkuat ekonomi daerah sekaligus memperkenalkan identitas Sulawesi Utara.
“Dari harmoni suara hingga kreativitas olahan kelapa, World Coconut Day 2026 menjadi panggung bagi Sulawesi Utara untuk menunjukkan potensi, talenta dan karya terbaiknya,” ungkapnya.
Ia berharap momentum tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu membuka ruang lebih luas bagi karya masyarakat Sulut agar dikenal di tingkat nasional hingga internasional. (Liu)



